“Malang Tempo Doeloe”

Dari balik kaca jendela mobil tampak mbakyu-mbakyu cantik mengenakan pakaian tempo dulu. Tidak ketinggalan para mas-mas memakai berbagai cara layaknya super model jaman kompeni. Ada yang berselempang sarung ala pitung, pakai blangkon selayak asmuni, pakai topi bulat sembari besepada ontel menyerupai serdadu VOC dan masih banyak lagi gaya sekenanya karena memang ini bukan acara untuk mencari juara busana terbaik. Den Boy senyum-senyum sendiri membayangkan bahwa untuk bergaya seperti itu beberapa dari mereka pasti ada yang menggeledah lemari pakaian demi menemukan pakaian tren milik ayah bunda jaman pacaran dahulu yang cocok untuk dipakai.
Kebetulan, saat perjalanan dinas di kota Malang (sebenarnya ingin jalan-jalan) Den Boy menjumpai acara unik. Mengusung judul Malang Tempo Dulu, acara tersebut menyuguhkan suasana masa lalu di kota Malang, khususnya di Jalan Ijen tempat acara tersebut diadakan. Mulai suasana dengan terang lampu minyak di malam hari, makanan-makanan tradisional, pentas-pentas kesenian dan pengunjung yang mengenakan pakaian model lama benar-benar menampilkan suasana klasik tempo dulu.
Dari dalam hati Den Boy berdecak kagum, dijaman di mana bangsa sedang kehilangan identitas ini, masih banyak orang-orang yang tidak malu mengenakan busana daerah, meskipun hal ini cuma sekedar ajang gaul saja. Nah disanalah letak kekagumannnya, “Gaulmenggunakan sesuatu yang menjadi budaya sendiri ” Anehkan misal kita jalan-jalan atau shopping di pasar tradisional bukan di mall. Begitu pula pacaran tidak di gedung bioskop tetapi di pentas ludruk atau wayang orang. Arisan tidak di restoran tetapi menggelar tikar sambil memotong nasi tumpeng atau makanan tradisional sejenis.
Satu lagi kekaguman Den Boy, yaitu partisipasi dari pengunjung, paling tidak dengan berusaha mengenakan pakaian jaman dulu. Banyak memang acara serupa diadakan, terutama di kota-kota pariwisata, akan tetapi yang melibatkan partisipasi aktif dari pengunjung amat jarang ditemui. Akan lebih bagus tampaknya jika acara semacam sekaten di New York Arto Hadiningrat juga mengusung tema serupa. Para pengunjung mengenakan pakaian khas, stan-stan menampilkam produk-produk tradisional, hiburan-hiburan menampilkan panggung rakyat dan lain sebagainya. Tidak seperti selama ini yang hanya sekedar pasar yang pindah tempat saja. Profit memang penting tapi makna utama suatu acara diadakan hendaknya jangan dilupakan.
Memang tak dapat dipungkiri bahwa jaman terus berubah dan manusia selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi keberanian untuk menjaga nilai-nilai yang mungkin dianggap kuno tetapi masih bermanfaat serta tidak serta merta mengikuti tren patut di acungi jempol. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa tegak menjaga budayanya. Mengapa bangsa Indonesia yang menganggap diri bangsa yang besar tidak mati-matian melestarikan budayanya yang bahkan mulai di klaim Negara tetangga itu. Dengan mengadah langit den boy berharap akan banyak acara-acara serupa diadakan dan dapat menghadirinya.
No Comments »
Filed under: Tak Berkategori tagged budaya